Rabu, 24 Juni 2009

Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Redefinisi Makna Kuliah

Belajar merupakan hak semua orang. Tetapi belajar di perguruan tinggi, merupakan kebanggan tersendiri dan tidak semua orang mendapatkan kesempatan tersebut. Adanya pengakuan formal dari masyarakat terhadap lulusan perguruan tinggi merupakan salah satu kebanggaan tersebut. Namun, seharusnya mereka yang memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi, didasarkan pada kesadaran akan minat dan tujuan individual mereka masing-masing. Hal ini diperlukan agar dalam proses belajar nantinya, mereka tidak hanya sekedar masuk dan kuliah tetapi juga memiliki usaha lebih untuk mendapatkan tujuan yang ingin dicapainya. Dengan begitu, mereka yang belajar di perguruan tinggi mempunyai kepribadian kesarjanaan yang hanya dimiliki oleh mereka.

Namun, pada kenyataannya, mahasiswa cenderung tidak memiliki tujuan dan rencana yang jelas di masa depan untuk belajar di perguruan tinggi sehingga hanya mengikuti alur kuliah yang harus dia tempuh tanpa ada pendalaman dalam setiap proses yang dia lewati. Bukan hanya tujuan yang samar dan tidak memiliki batasan waktu dan prosedur yang jelas untuk mencapainya. Walaupun begitu, semua tujuan masing-masing individual akan dicapai dengan proses belajar-mengajar di kelas atau biasa disebut dengan kuliah. Makna kuliah seharusnya lebih dalam daripada hanya sekedar datang, duduk, dan dengar dan catat tanpa ada proses berpikir. Kuliah merupakan wadah untuk bertukar informasi antara mahasiswa dan dosen.

Mahasiswa diharapkan memiliki buku panduan yang ditetapkan oleh dosen. Dosen sudah memberikan perencanaan perkuliahan yang disebut silabus, yang berisi tentang sistematika kuliah selama satu semester. Mahasiswa diharapkan minimal sudah membaca materi yang akan dibahas pada saat kuliah berikutnya agar jika ada kekurangan informasi atau ada masalah yang perlu dibahas berkaitan dengan materi tersebut dapat diutarakan pada saat kuliah. Dalam hal ini, diperlukan partisipasi dari mahasiswa dan juga dosen. Mahasiswa dan dosen harus sama-sama aktif untuk menghidupkan suasana kelas.

Pemilihan buku panduan yang tepat juga mempengaruhi keberhasilan proses belajar-mengajar di perguruan tinggi. Tidak harus buku berbahasa asing untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami materi dan meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Karena salah-salah memilih buku, mahasiswa malah semakin sulit memahami apa isi dari buku tersebut dan akhirnya hanya menjadi syarat saja tetapi tidak pernah digunakan dengan maksimal. Hal ini dikarenakan kemampuan berbahasa mahasiswa yang minim. Terkadang, menggunakan buku berbahasa Indonesia saja masih sulit untuk memahami sepenuhnya, mahasiswa malah diberi buku bahasa asing yang lebih rumit lagi untuk memahaminya dengan kemampuan berbahasanya yang terbatas.

Dengan tujuan belajar, cara belajar, adanya rencana perkuliahan, buku panduan, dan sistem belajar mengajar yang tepat, diharapkan mahasiswa akan lulus dengan nilai yang memang merupakan hasil penalaran dan pembelajaran yang maksimal, dan tidak hanya sekedar nilai yang bagus di ijazah tetapi tidak diikuti dengan skill dan kemampuan yang sesuai. Lulusan perguruan tinggi seharusnya memiliki kemampuan lebih di atas lembaga-lembaga pendidikan non-formal lainnya. Sehingga perguruan tinggi bukan hanya sebagai tempat untuk memberikan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga memiliki wawasan, visi, kearifan, dan kepribadian kesarjanaan lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar